Selasa, 03 Maret 2015

Ketika tuhan menciptakan wanita, malaikat datang dan bertanya,"mengapa begitu lama menciptakan wanita, tuhan?"
Tuhan menjawab,
"Sudahkah engkau melihat setiap detail yang saya ciptakan untuk wanita?" lihatlah dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan, punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan, dan semua itu hanya dengan dua tangan".

Malaikat menjawab dan takjub,
"hanya dengan dua tangan? Tidak mungkin!
Tuhan menjawab,
"tidakkah kau tahu, dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja 18 jam sehari".

Malaikat mendekat dan mengamati wanita tersebut dan bertanya,
"tuhan, kenapa wanita terlihat begitu lelah dan rapuh seolah-olah terlalu banyak beban baginya?"
tuhan menjawab,
"itu tidak seperti yang kau bayangkan, itu adalah air mata."
"untuk apa?", tanya malaikat.
Tuhan melanjutkan,
"air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan, serta wanita ini mempunyai kekuatan mempesona laki-laki, ini hanya beberapa kemampuan yang dimiliki wanita.

Dia dapat mengatasi beban lebih dari laki-laki, dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri, dia mampu tersenyum saat hatinya menjerit, mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan.

Dia berkorban demi orang yang dicintainya, dia mampu berdiri melawan ketidakadilan, dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang, dia girang dan bersorak saat kawannya tertawa bahagia, dia begitu bahagia mendengar suara kelahiran.

Dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian, tapi dia mampu mengatasinya. Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.

"Cintanya tak bersyarat. Hanya ada satu yang kurang dari wanita, dia sering lupa betapa berharganya dia..

Senin, 02 Maret 2015

- Kata Pengantar Sebelum Tidur -


Aku tak bisa menyusun kata...
penutup yang indah...
untuk mengakhiri percakapan....
hanya bisa kutatap matamu...
sampai embun....
Bahkan bintang-bintang telah...
bergugur...
tetapi aku enggan tidur...
sibuk menganyam bait demi bait kasih di rambutmu...
seribu musim merajut singgasana...
di atas kelambu...
bukankah malam adalah istana...
tempat paling megah....
di atas bumi...
engkau dan aku selalu bersanding...
berbagi cerita berbagi puisi...
berbagi mimpi...
menciptakan pagi...
Puisi by sahabat...

Cerpen dan "Puisi Untuk Dia"

"Nih buat kamu"
Kemudian aku pun lari sekencang kencangnya, tidak perduli tatapan kebingungan dari matanya. Terus lari sambil sesekali menengok kebelakang untuk tahu seperti apa reaksi dari dia selanjutnya. Dia sedang membaca selembar kertas yang baru saja aku taruh secara paksa di tangannya. Aku tersenyum, tapi cuma sebentar lantaran betisku yang kencang menyenggol ban gerobak abang tukang bakso. Aku mengaduh, abang tukang bakso misuh misuh lalu kembali lari takut di guyur kuah bakso yang mendidih itu. Kemudian kembali lagi kutengok dia, sudah selesai membaca kertas itu, tersenyum mendongakkan kepalanya mencariku. Lalu dia tiba tiba berlari kearahku bermaksud mengejarku. Aku kaget, grogi, malu tapi mau, tapi kupilih mempercepat kaki kaki melangkah.
Berlari, melewati ibu ibu yang sedang ngerumpi, balapan sama anak kecil yang riang gembira duduk di kursi sebuah odang odong.
Dia terus mengejarku, rambutnya berlarian menuruni lehernya yang jenjang lalu naik lagi tersentak hentakan kakinya yang berlarian.
Harusnya aku senang, sebab sudah lama aku menaruh hati padanya dan sekarang dia mengejar ngejarku. Ingin berkata kata denganku. Tapi yang ada malah jadi begini. Aku malu. Malu tapi mau, ah pusing.
Jadi aku terus berlari dikejar kejar olehnya. Berkelok kelok menyusuri jalan komplek perumahan, sampai aku terhenti di sebuah jalan buntu.
Aku heran setahuku tidak ada jalan yang buntu, kenapa sekarang ada. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu, karena sekarang dia sudah berada sejengkal di belakangku, lalu segera berdiri di depanku. Sambil mengatur nafas dia tersenyum.
"Ini maksudnya apa"
Selembar kertas yang tadi kuberi segera di sodorkan kepadaku. Bias merah seketika membasuh mukaku. Tapi kubiarkan saja tangannya menggantung, tidak kuterima kertas itu.
"Itu puisi buat kamu"
Aku memang menulis puisi di kertas itu, karena kata orang puisi adalah wujud terindah dari kata kata. Maka kubuatkan puisi untuknya, puisi puisian tidak tahu bagus atau tidak. "Gimana, kamu suka?"
Dia tertawa kecil hingga kelihatan gigi giginya yang putih.
"Kamu lucu yah"
Aku.Lucu, ah engga juga tapi oleh cewek secantik dia aku rela dibilang apa saja. Sungguh.
"Tapi beneran ini puisi buat aku?" Katanya lagi.
"Emang kenapa"
"Nih, baca aja"
Kali ini kertas itu kuambil, kubuka lipatannya dan kubaca.
Beras 1 liter
Minyak goreng 1 liter
Cabe merah 1/2 kilo
Telor 1/4 kilo
Sabun mandi 1
Sikat gigi 1
Tidak bisa kubayangkan bagaimana rona mukaku waktu itu. Malu, tapi masih mau.
Kuraba saku celana sebelah kanan , disitu masih tersimpan kertas yang seharusnya kuberikan padanya tadi. Bukan daftar belanjaan yang kutaruh di saku celana sebelah kiri. Argghh!!
Sial!!
Kesan pertama ternyata sama sekali tidak menggoda.
Tapi kulihat dia masih tertawa, sedikit mengurangi rasa maluku.
"Sory tadi salah ngasih, harusnya yang ini"
Tangan kananku mengorek kantong celana sebelah kanan, mengambil selembar kertas yang benar, lalu kuserahkan padanya.
Dia menggelengkan kepalanya."Aku mau kamu yang bacain"
Mampus!!
Menyerahkan puisi saja sudah membuatku panas dingin, sekarang malah disuruh baca di depannya.
Tapi, sudah terlanjur basah ya sudah keramas sekalian.
Begitulah kira kira pepatah lama mengatakan.
Aku pun berdiri tegap, lalu menekuk kaki kananku, sedangkan dengkul kaki kiriku merebah di tanah. Selayak pangeran ingin melamar tuan putri raja.
Kutarik nafas panjang dan dalam, berusaha menghayati puisi yang akan kubacakan.
hai, kau gadis rupawan
aku hanya ingin bertanya
apa kau tidak merasa risih,
setiap hari mengoleskan madu di bibirmu
lantas membuat orang mengerjap ngerjap kemanisan
apa kau tidak merasa kasihan?
apa kau tidak merasa lelah
menggelayutkan gelap malam di helai rambutmu
lalu mencuri kelip bintang untuk kau tenggelamkan dimatamu
apa kau tidak merasa bersalah?
hai kau gadis rupawan
sekali lagi aku ingin bertanya
apa kau tidak merasa keberatan
jika kukatakan,
maukah kau menjadi kekasihku?
Angin berhembus membawa debu debu dan menggaungkan teriakan anak anak kecil yang bermain layang layang.
Aku berdiri dan menunggu dia berkata kata, namun hanya mataku dan matanya yang berpandangan. Lama sekali sampai ku pikir mungkin sudah berkali kali kuselami kebeningan matanya, tapi kata kata itu tidak juga muncul.
Lalu disaksikan pohon rambutan yang berdiri di ujung jalan , dia meraih tanganku. Merangsek maju hingga tak ada celah lagi antara aku dan dia.
Kulingkarkan tanganku di pinggangnya, setelah itu dia pun melakukan hal yang sama, melingkarkan tangannya di pinggangku.
Mata itu masih menatapku.
"Kalau kamu mencintaiku karena tubuhku, maka sekarang kau sudah memiliknya, tapi kalau kamu mencintaiku karena ingin memiliki hatiku, pergilah, temui laki laki yang sudah lama mencuri separuh hatiku. Lalu rebutlah, bawa padaku"
Tapi aku menolak pilihan itu."Aku tidak perlu mencari orang itu, karena akan kuberikan separuh hatiku untukmu. Bahkan semuanya, kalau kau mau"
Tidak ada jawaban. Aku pun tidak sedang menunggu jawaban.
Karena matanya yang kemudian berbicara, menatapku lekat. Karena senyumnya yang kemudian bercerita, terkembang sempurna.
Karena tangannya yang kemudian membalasnya, merengkuh pinggangku erat.

Keindahan Alam

Burung senja pula yang menyanyikan lagu tentang keindahan..
damai..
sungguh damai..
ketika aku menari bersama senja..
perlahan aku lelah dgn tarian keindahan..
aku rebahkan tubuhku..
tenggelam dalam kasur rumput yang hijau..
dan sejenak aku mengatur nafasku.
deguban jantungku yg seirama nyanyian keindahan..
aku merasa damai..
sedamai mentari pagi..
saat itulah aku ingin sebuah masa..
saat itulah aku ingin sebuah waktu..
tak ingin sendiri menari dalam sebuah keindahan..
tak ingin sendiri merasakan sebuah keindahan..
aku ingin seseorang tahu keindahan ini..
aku ingin seseorang pula menari bersamaku dalam keindahan..
namun kuyakinkan diriku..
keindahan hadir kala hati risau..
namun kunyatakan diriku..
menari sendiri dalam keindahan itu hanya secuil kebahagiaan..

Kembali aku membuka mata..
aku melihat awan serupa malaikat..
aku hanya bisa tersenyum kala melihat itu..
aku hanya bisa menangis bahagia kala merasakan damai ini..
aku hanya bisa tertawa saat aku sadar akan kesendirian ini..
terhenyak aku melihat pasangan kupu-kupu pelangi melintasiku..
membawa lebih sekedar pertanyaan dalam benakku..
membuatku iri melihat mereka..
mengindahkan pula perasaan ini..
masih dalam rebahan tubuhku dalam hamparan rumput yang hijau..
dan aku semakin aku ingin lelap tertidur dalam keindahan ini…
perlahan aku merasakan tangan yang memelukku..
hangat dan membuat jantungku berdegub kencang..
tak sedikitpun aku membuka mata ini..
dia yang memelukku..
dia yang terbaring disisiku..
memanggil namaku..
“Cakrawala.”
samar tapi pasti aku tahu suara itu..
samar tapi pasti aku tahu harum itu..
samar tapi pasti segera aku membuka mata ini dan menatap mata indahnya..
“kau yang kusebut Keindahan… hadir dalam lelapku.. tiadakah kesalahan..”
“kau yang kusebut Cakrawala.. tak ada kesalahan aku ingin membuatmu tersenyum..”
dan kusadari.

Cinta KU

Berlinanglah air dari sebuah langit yang seakan menangis...
Detik waktu telah berlalu udara hati kini kian menyejuk...
dijendela Kuratapi setiap air yang berlinang...
sejenak ku tundukan kepala ku mengenang semua kenangan di hidup ku...
Kisah bersamanya , senyuman , canda dan tawa ...
tak terasa air mata kian membasahi pipi ini...
ku usap air mata ku dan beranjak membuka lebar mata ini...
akan kehidupan yang akan menantiku di depan sana...
Embun menyelimuti kaca jendela kamar ku...
seperti hati ini yang selalu di selimuti akan kerinduan hati...
setiap ku bersihkan embun itu berubah menjadi air di tangan ku...
dan ku biarkan air itu di tangan ku hingga air itu menghilang di tangan ku...
Berharap rasa rindu itu seperti air di tangan ku...
yang akan menghilang sendirinya di dalam hati ini...
meratapi hujan ini membuat ku tersadar...
" Bahwa sebuah kesedihan dalam hidup takan selamanya "...
Semoga ini bisa menjadi sebuah semangat dalam hidupku...

- einelive -
^abner^